IBU ku selalu
mengatakan padaku agar aku menjaga hati ku supaya tidak patah.
Percayalah, aku berusaha keras menjaganya agar tidak tergores segaris
pun. Hati bagai pagar rumah, dia melindungi segalanya.
Ketika aku
mengenal kekasih, ku buat ia berjanji untuk selalu menjaga hatiku. Tapi
mulut memang lancar berdusta. Hari berlarian cepat, memberiku kebahagian
yg kemudian kutahu semuanya ternyata hanya cahaya teramat remang.
Kekasihku meniastaiku. Dia tidak hanya menggoreskan baret yg teramat
dalam, dia pun tega mematahkannya. Hatiku penyok, tak dapat berbentuk
seprti sediakala.
Pada purnama kesembilan, hari kelima belas, pertengahan tahun. Ada seorang sahabat, dia mendampingiku, memegang tanganku, dan membelai air mataku. Katanya padaku
"jangan menangis, jangan kehilangan arah. Hatimu sangat indah, cantik, bercahaya, dan rapuh. Tak heran bnyak pencuri yg hendak merusak pagar jiwamu" senyumnya meneduhkan. Kutelan butir2 harapan yg jatuh dari bibirnya. Katanya padaku, dia dapat merapihkan hatiku kembali.
*Aku tak pernah menyalahkan perlakuanmu ini. Aku mencintaimu tanpa mengerti bagaimana, sejak kapan, atau dari mana. Aku mencintaimu dengan sederhana, tanpa kebimbangan, tanpa kesombongan. Aku mencintai sprti ini, karna tak ada cara lain untuk mencintai* ~clara Ng
Pada purnama kesembilan, hari kelima belas, pertengahan tahun. Ada seorang sahabat, dia mendampingiku, memegang tanganku, dan membelai air mataku. Katanya padaku
"jangan menangis, jangan kehilangan arah. Hatimu sangat indah, cantik, bercahaya, dan rapuh. Tak heran bnyak pencuri yg hendak merusak pagar jiwamu" senyumnya meneduhkan. Kutelan butir2 harapan yg jatuh dari bibirnya. Katanya padaku, dia dapat merapihkan hatiku kembali.
*Aku tak pernah menyalahkan perlakuanmu ini. Aku mencintaimu tanpa mengerti bagaimana, sejak kapan, atau dari mana. Aku mencintaimu dengan sederhana, tanpa kebimbangan, tanpa kesombongan. Aku mencintai sprti ini, karna tak ada cara lain untuk mencintai* ~clara Ng
Tidak ada komentar:
Posting Komentar